• Bermain Ular Tangga sebagai Media Pembelajaran

    Oleh: Nurulaini Kholiq, S.Pd.I


    SUDAH selayaknya belajar itu harus menyenangkan, karena dengan perasaan senang segalanya bisa diarahkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, baik di dalam maupun di luar kelas, seorang murid membutuhkan konsentrasi yang baik dalam menerima pelajaran yang diajarkan oleh guru di bidangnya masing-masing.
    Baiklah, dalam pembelajaran kita kali ini khususnya di materi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang penulis ajarkan, penulis hanya berusaha agar seorang murid secara individu ataupun berkelompok mampu menerima pelajaran atau materi yang diajarkan. Oleh karena itu sebagus apapun metode yang digunakan dan sehebat apapun guru dalam memberi bimbingan, namun jika tidak didukung dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kadar kemampuan anak didiknya, maka hasilnyapun kurang maksimal. Seyogyanya kita hanya berusaha untuk tidak membuang sia-sia efektivitas belajar sebelum ilmu itu berhasil diamalkan. Di sini sedikit bisa kita pahami bahwa ketiga unsur yakni metode yang bagus , guru yang ulet, dan media pembelajaran yang baik adalah tiga rangkaian yang tidak bisa dipisahkan dalam perbaikan kualitas kegiatan belajar mengajar. Sebagai manusia pembelajar kita tidak bisa memungkiri hal demikian disetiap kegiatan belajar mengajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
    Di sini penulis hanya mengutip media pembelajaran yang dinamai “Media Ular Tangga“. Sebenarnya,  media ular tangga ini terinspirasi dari kegiatan bermain anak-anak yang bahannya mudah dan biasa dijual oleh pedagang kaki lima sewaktu penulis duduk di sekolah dasar (SD) (sekitar tahun 1994). Bentuknya pun simpel seperti banyak kolom diberi nomor ada beberapa bergambar ular dan tangga sedikit unik. Dan ada simbol yang dapat dipahami dengan mudah, dan setiap anak punya koin atau alat penanda dan ada benda kubus berupa dadu yang diputar /dilempar secara bergiliran. Itulah sedikit gambaran permainan ular tangga yang sekiranya dijelaskan disini akan sulit untuk dipahami kecuali jika langsung dipraktikkan.
    Kembali kepada media ular tangga ini, penulis hanya menambahkan kalimat-kalimat perintah melewati papan yang dipakai dan juga kartu yang disediakan. Atau bahan lain yang dikombinasikan dengan pelajaran dibuat menyenangkan, namun anak-anak tetap diharuskan membawa buku materi ajar sebagai bahan pertanyaan dan jawaban. Jika perintah pertanyaan tidak dapat diselesaikan oleh individu maka harus diselesaikan secara kolektif melalui buku ajar tersebut. 

    Pada intinya buku materi adalah bahan rekomendasi /redaksi yang menjadi tumpuan belajar anak-anak. Pada media ini, siswa dituntut untuk menyumbangkan pemikirannya melalui hal-hal sebagai berikut :
    1.   Membuat materi pertanyaan sesuai bab yang diajarkan atau yang diperintahkan gurunya.
    2.   Membuat pesan-pesan yang mengarah pada bab yang diajarkan atau membuat  sebuah simbol  kalimat hukuman yang bersifat pelajaran (baik menghafal ayat Al-Qur’an, al Hadits atau materi yang diajarkan).
    3.   Bebas berekspresi membuatnya sendiri dan menampilkan medianya sesuai keinginan namun tidak terlepas dari materi yang diajarkan dan  beretika.
    Nah, dari ketiga unsur tersebut tentu akan lebih menarik jika diarahkan oleh guru pembimbingnya secara periodik, kreatif, dan inovatif. Pada dasarnya media pembelajaran ular tangga ini akan lebih bervariasi dan berkembang setelah guru dan murid bekerja sama dan saling mengevaluasi cara pemakaian media tersebut.
    Dari sekian percobaan-percobaan media ular tangga ini yang pernah penulis pakai di SD Islam Baitul Makmur saat mengajarkan Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) tahun 2015. Ada beberapa efek yang ditimbulkan yang bisa disimpulkan yakni sebagai berikut:
    1.   Siswa mampu membuat sebuah catatan khusus; pertanyaan penting  pada bab atau materi yang dipelajari.
    2.   Siswa mampu menunjukkan kemampuan percaya diri untuk mendemonstrasikan semua pertanyaan.
    3.   Siswa mampu beradu argumen jika salah satu di antara teman yang memberikan keterangan kurang tepat atau tidak sportif.
    4.   Semua siswa punya peranan penting secara keseluruhan (jadi tidak ada yang paling penting namun semuanya penting).
    5.   Siswa yang pasif akan berubah menjadi aktif manakala satu sama lain punya tanggung jawab yang sama. Yang pada akhirnya mau bekerja sama secara berkelompok.
    6.   Kompetensi siswa akan bisa dilihat juga oleh teman sepermainan di media ini secara objektif. Dikatakan objektif karena hasil dari kesepakatan kelompoknya dalam memberikan sebuah jawaban dan pertanyaan (close atau open book) maupun konsekwensi hukuman dari permainan ini.
    7.   Seorang pembimbing dapat mengawasi dan mengendalikan cara belajar siswa melalui media ini secara langsung maupun tidak langsung. Dan tak kalah pentingnya guru dengan mudah memberikan sebuah penilaian dan apresiasi bagi siswa yang punya nilai tertinggi.
    Dari ketujuh dampak yang ditimbulkan dari permainan ini tidak lain adalah membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan, sebagaimana yang pernah digagas oleh Bobbi Deporter dan Mike Hernacki dalam “Quantum Learning“ nya. (Dell Pubishing, New York, 1992 ). Akan tetapi kita selaku guru pembelajar, perlu menekankan bahwa belajar nyaman dan menyenangkan sangat banyak caranya. Tergantung keseriusan kita dalam berinovasi, kreatif dalam mencari dan menemukan sumber belajar di manapun berada. Hanya untuk sekedar diketahui, media pembelajaran apapun hendaknya dengan ukuran yang sekiranya dapat diterapkan oleh kita dan anak didik kita. (*)



    *) Penulis adalah Staf TU dan Pengajar di SMP Islam Baitul Makmur Malang.


    Editor: Hendarmono Al Sidarto

  • You might also like

    1 komentar: